Hidup di dalam Kristus akan membawa kita bersandar kepada-Nya, yang pada akhirnya akan membuahkan hati yang senantiasa bersyukur; baik pada saat badai kehidupan melanda ataupun sukacita yang membuat kita senang.
Archive for August, 2010
Mengasihi
Takut akan Allah
“Mata Uang” di Bumi Beda dengan di Surga
“Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26).
Seorang hartawan sedang terbaring di tempat tidur menunggu saat kematiannya. Ia menghabiskan seluruh waktunya untuk mencari uang. Saat menghadapi masalah dalam kehidupannya, ia selalu berprinsip bahwa uang dapat menolongnya untuk keluar dari masalah tersebut. Read the rest of this entry »
Bakat
A bird sing
There are only two ways to live your life
Darkness cannot drive out darkness
Clarence W. Jones
Salah seorang individu yang paling memberi pengaruh besar dalam gebrakan penerjemahan Alkitab pada abad ke-20 adalah William Cameron Townsend — pendiri Wycliffe Bible Translators (WBT) dan Summer Institute of Linguistics (SIL). Cam Townsend adalah seorang pribadi yang berkeyakinan tinggi, dan memiliki sifat kepemimpinan yang tegas dalam kedua organisasi tersebut dan juga dalam memimpin JAARS (Jungle Aviation and Radio Service). Ketegasan itu seringkali mengakibatkan terjadinya kontroversi. Billy Graham menyebutnya sebagai “the greatest missionary of our time,” dan pada saat kematiannya di tahun 1982, Ralph Winter (dari United States Center for World Mission) menempatkannya sebagai salah seorang misionaris yang paling menonjol selama dua abad terakhir ini — sejajar dengan William Carey dan Hudson Taylor.
Cam Townsend, demikian dia sering dipanggil, lahir di California pada tahun 1896 saat kondisi perekonomian buruk. Pada waktu masih muda ia hidup dalam kemiskinan. Cam dibesarkan dalam lingkungan Gereja Presbiterian (the Presbyterian Church). Dia kuliah di Occidental College, sebuah sekolah Presbiterian di Los Angeles. Memasuki tahun kedua kuliahnya, Cam bergabung dalam Student Volunteer Movement. Pada masa kuliahnya, The Bible House of Los Angeles membutuhkan salesman Alkitab untuk wilayah Amerika Latin dan Cam merasa tertarik. Dia melamar pekerjaan itu dan diterima. Cam ditugaskan di wilayah Guatemala dan berangkat pada bulan Agustus 1917 bersama dengan seorang temannya. Menjual Alkitab di Amerika Tengah — dimana Alkitab sangat sulit diperoleh — secara sekilas tampak seperti melakukan pelayanan yang menjanjikan. Namun akhirnya Cam menyadari bahwa usahanya itu ternyata sia-sia saja. Wilayah kerjanya kebanyakan di daerah-daerah pinggiran yang dihuni oleh sekitar 2000 orang Cakchiquel Indian yang sama sekali tidak dapat memahami Alkitab dalam bahasa Spanyol yang dijualnya. Bahkan kelompok orang Indian itu sama sekali belum memiliki bahasa tulis. Saat Cam melakukan perjalanan di daerah-daerah tersebut, dia mulai terbiasa mendengarkan bahasa tutur yang dipakai orang-orang Indian itu. Cam merasa terbeban dengan keadaan mereka. Suatu saat salah seorang dari orang Indian itu berkata padanya, “Jika Allah yang kau sembah benar-benar pintar, mengapa Dia tidak mau mempelajari bahasa kami?”
Cam Townsend tertantang dengan pertanyaan itu dan selanjutnya dia mendedikasikan 13 tahun hidupnya untuk tinggal bersama dengan suku primitif Cakchiquel Indian. Tujuannya yang utama adalah mempelajari bahasa yang mereka gunakan, menyalinnya dalam bentuk tulisan, dan akhirnya yang paling penting adalah menerjemahkan Alkitab dalam bahasa tersebut. Setelah bekerja keras selama 10 tahun, akhirnya pada tahun 1929, Cam berhasil menyelesaikan terjemahan Alkitab Perjanjian Baru dalam bahasa Cakchiquel Indian. Penerjemahan tersebut memantapkan keyakinan Cam akan pentingnya proyek penerjemahan Alkitab. Cam berkeinginan untuk terus menerjemahkan Alkitab bagi suku-suku yang belum memiliki bahasa tulis. Namun Central American Mission menyatakan bahwa sudah menjadi tugas Cam bahwa ia harus tetap tinggal di wilayah Cakchiquel Indian dan memelihara pertumbuhan iman mereka. Karena perbedaan pendapat tersebut, akhirnya Cam mengundurkan diri. Pada tahun 1934 bersama dengan L.L. Legters mendirikan Cam Wycliffe di Arkansas — cikal bakal dari Summer Institute of Lingusistics (SIL). Kedua orang tersebut memberi perhatian khusus tentang pelatihan linguistik bagi para penerjemah Alkitab. Meskipun tidak terlibat secara langsung sebagai organisasi misi, namun SIL memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi kemajuan dunia penginjilan.
Meskipun SIL memegang peran penting dalam proyek penerjemahan Alkitab, namun bentuknya sebagai organisasi sekuler (dengan tujuan agar dapat menjalin hubungan-hubungan yang baik dengan pemerintah asing) tidaklah sesuai sebagai organisasi pendukung misi. Karena itu pada tahun 1942, Wycliffe Bible Translators — namanya diambil dari John Wycliffe, penerjemah Alkitab pada abad ke-14 yang dikenal sebagai “The Morning Star of the Reformation” — secara resmi didirikan.
Bersama dengan Elaine — istri keduanya (istri pertama Cam, Elvira Malmstrom, meninggal pada tahun 1944) — Cam melakukan pelayanan di Peru selama 17 tahun, tempat dimana keempat puteranya dilahirkan. Mereka terus melanjutkan pelayanan dan merintis pelayanan di Colombia. Meskipun Cam dikenal sebagai seorang misionaris yang besar, namun dia tetap menganggap dirinya sebagai seorang penerjemah Alkitab. Sesudah melayani selama 50 tahun, saat dimana kebanyakan orang mulai memikirkan tentang pensiun, Cam mempersiapkan diri untuk pergi melayani bersama Elaine ke Uni Soviet. Setelah mempelajari bahwa ada sekitar 100 bahasa tutur di wilayah Caucasus — dan belum ada terjemahan Alkitab dalam sebagian besar bahasa-bahasa itu — maka Cam memutuskan untuk melibatkan diri mulai dari awal dalam proyek penerjemahan Alkitab untuk wilayah Caucasus. Jadi, pada umur 72 tahun, Cam bersama Elaine mempelajari bahasa Rusia selama beberapa jam setiap harinya. Setelah persiapan awal itu selesai dilakukan, mereka berangkat ke Caucasus.
Dalam seluruh kehidupannya, ada satu filosofi yang memotivasi Cam dan memusatkan seluruh perhatiannya pada Alkitab: “The greatest missionary is the Bible in the mother tongue. It never needs a furlough, is never considered a foreigner.” (‘Misionaris’ terhebat adalah Alkitab dalam bahasa ibu/bahasa yang dipahami penduduk setempat. ‘Misionaris’ ini tidak perlu cuti dan tidak pernah dianggap orang asing.) Filosofi dari Cam inilah yang menjadikan WBT/SIL dan JAARS dapat berkembang sampai saat ini.
Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:
Judul Buku: From Jerusalem to Irian Jaya
– A Biographical History of Christian Missions
Penulis : Ruth A. Tucker
Halaman : 351 – 357
dari: http://wanita.sabda.org/
bung Yahya
Bung Yahya atau pak Yahya adalah sapaan khas para sobat Harmoni bagi penyiar Cahaya Harmoni ini. Bung Yahya mempunyai nama lengkap Yahya Supardan lahir di Purwokerto pada 20 September 1955. Penyiar yang tinggal di jalan Mangga no 28 Blitar ini memiliki hoby Bulu Tangkis dan sangat suka sekali dengan Bakso, apapun jenis baksonya.
“memberikan pelayanan yang terbaik dengan bijaksana” itulah motto hidup dan pelayanan bung Yahya.
Dalam hidup melayani dia juga memiliki firman Tuhan favorit yang terambil dari:
Mazmur 141:3 Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!
Matius 12:37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
“senang melayani di Harmoni karena dapat menjumpai seluruh sobat Harmoni untuk saling membangun pertumbuhan rohani tanpa dapat dibatasi oleh ruang walau hanya lewat udara” itulah kesan bung Yahya dalam melayani di Harmoni.
Suara bung Yahya dapa sobat dengarkan setiap hari mulai pukul 5 – 7 dalam acara cahaya Harmoni. Dalam acara ini sobat dapat berkirim salam dan merequest puji-pujian untuk menambah semangat memulai hari.
Melangkah pasti bersama Tuhan, itulah motto dari cahaya Harmoni.






